Lionel Messi sering diakui sebagai Greatest of All Time (GOAT) dalam sepak bola. Keahlian dribbling yang luar biasa, memungkinkannya lolos dari keroyokan pemain lawan, seringkali menjadi sorotan utama kamera. Tidak diragukan, saat sedang on fire, sulit sekali menghentikan pergerakannya.
Wajar jika banyak pemain muda mengagumi dan berusaha meniru teknik dribbling Messi. Namun, mengagumi tidak berarti harus mengkopi secara mentah-mentah. Menjadi sebuah kesalahan fatal jika seorang pemain muda terlalu bernafsu meniru dribbling solo Messi tanpa memahami aspek lainnya. Hal ini berisiko besar menghasilkan pemain yang egois, terlalu fokus pada penguasaan bola, dan mengabaikan kolektivitas tim.
Baca Juga : Jadwal Siaran Langsung Super League: Persib Bandung Siap Hadapi Pemuncak Klasemen Borneo FC
Messi: Perpaduan Dribbling dan Kecerdasan Taktis
Kehebatan sejati Messi terletak pada perpaduan luar biasa antara teknik dribbling tingkat tinggi dan Football Intelligence (kecerdasan sepak bola) yang superior. Messi tidak hanya lihai menggocek; ia juga sangat cerdik dalam membuka ruang saat tidak memegang bola dan terampil memberikan umpan-umpan terobosan akurat. Dua kemampuan terakhir ini akan sulit dilakukan oleh pemain yang egois.
Football Intelligence adalah kemampuan pemain untuk membaca permainan secara menyeluruh, memahami taktik tim dan lawan, serta membuat keputusan yang paling tepat—baik saat menguasai bola maupun tidak.
Teknik Scanning: Indikator Utama Kecerdasan
Indikator penting dari football intelligence adalah bagaimana pergerakan pemain saat tidak memegang bola. Apa yang dilakukan Messi ketika tidak memegang bola?
Messi selalu melakukan scanning, yaitu menoleh ke berbagai arah. Perilaku ini, yang sering luput dari sorotan kamera, adalah proses membaca permainan, memindai posisi rekan tim dan lawan. Bahkan ketika ia terlihat hanya berjalan kaki saat timnya tidak menguasai bola, Messi tetap aktif melakukan scanning. Sesaat sebelum menerima umpan, ia masih menyempatkan diri menoleh ke kiri dan ke kanan untuk melihat situasi sekitarnya. Setelah menerima bola, ia mengambil keputusan instan—apakah harus menggiring bola atau segera melepas umpan kepada rekan yang posisinya lebih menguntungkan.
Arsène Wenger, mantan pelatih Arsenal, pernah mengeluhkan para pemainnya yang terlalu berfokus pada bola tetapi gagal melakukan scanning secara efektif. Menurut Wenger, pemain elit mampu melakukan scanning sebanyak enam hingga delapan kali dalam sepuluh detik sebelum menerima bola.
Thomas Müller: Kecerdasan Lebih Realistis Ditiru
Tidak semua pemain hebat harus memiliki teknik dribbling sekelas Messi atau Cristiano Ronaldo. Thomas Müller dan Toni Kroos adalah contoh pemain dengan teknik dribbling yang terbilang biasa. Mereka jarang sekali terlihat melakukan gerakan meliuk-liuk melewati banyak pemain lawan. Mereka juga tidak berambisi melakukan itu.
Namun, jika diukur dari football intelligence, Müller dan Kroos adalah pemain kelas dunia. Kemampuan mereka membaca permainan, melihat ruang kosong, dan memberikan umpan adalah hal yang seringkali terlepas dari perhatian kamera, tetapi vital bagi kemenangan tim.
Thierry Henry bahkan pernah menasihati anaknya untuk tidak meniru Messi atau Ronaldo, menyebut keduanya sebagai keajaiban yang mustahil ditiru. Henry menyarankan anaknya meniru Thomas Müller, yang mengandalkan football intelligence dan kerja keras, bukan sekadar teknik dribbling. Müller memiliki kemampuan scanning yang luar biasa, membuatnya sangat lihai dalam memanfaatkan ruang untuk menciptakan peluang dan mencetak gol secara konsisten tanpa harus berlama-lama menggiring bola.
Salah satu cuplikan yang menunjukkan kecerdasan Müller saat tidak memegang bola terlihat pada semifinal Liga Champions 2013 antara Bayern München melawan Barcelona. Saat itu, Arjen Robben menggiring bola di sisi kiri pertahanan Barcelona. Müller, yang berada di dekat bek kiri Barcelona, Jordi Alba, segera bergerak mendekati Alba untuk menghalangi pergerakannya. Aksi taktis ini membuka ruang yang lebih luas bagi Robben untuk mendekati gawang, yang akhirnya berujung pada gol. Sayangnya, sorotan kamera seringkali hanya terfokus pada sang pencetak gol (Robben), padahal Müller memainkan peran krusial dalam terciptanya ruang tersebut.
Kesimpulan:
Football intelligence jauh lebih realistis untuk dipelajari dan dikembangkan. Pemain dengan dribbling tinggi berpotensi bermain egois, yang dapat menghambat sirkulasi bola tim dan memberikan waktu bagi lawan untuk kembali menata pertahanan. Sebaliknya, pemain dengan kecerdasan taktis yang baik, seperti Müller, akan selalu berkontribusi maksimal pada efektivitas dan efisiensi serangan tim, menjadikan football intelligence sebagai fondasi utama menuju kehebatan kolektif.
